4 Agu 2009

School of Magic

“Permisi.. permisi. Oh, Maaf... Awas!” dengan cepat ia melewati sekumpulan orang.

“Hai, Dini!” sapa seorang wanita.

“Hai, Nyonya Mina!” balasnya.

Dengan cepatnya seorang gadis berlari sambil membawa tas yang ia selendangkan di bahunya melewati sekelompok pejalan kaki, gang yang cukup besar—mungkin hanya cukup untuk tiga orang dewasa bila dijajarkan—dan beberapa belokan dan persimpangan.

“Selamat pagi Nona Dini!” sapa seorang pria tua.

“Selamat Pagi Frank!” balasnya.

“Terburu-buru sekali?”

“Ya, aku terlambat masuk kelas.” Jawabnya tanpa berusaha berhenti sedikit pun hanya terlihat menengokan kepalanya, “Selamat tinggal Frank!”

Waktu menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Tidak berarti apa-apa bagi kebanyakan orang, tapi bagi Dini—seorang gadis tahun kedua di sekolah sihir—ini merupakan sebuah bencana awal semester. Ia akan terlambat untuk masuk ke kelas sejarah sihir pertamanya di semester ini. Kelas yang dimentori oleh Prof. Luvis, professor paling disiplin di seluruh tempat yang pernah Dini tahu. Terlambat berarti sengsara. Hukuman yang sudah pasti, tidak boleh masuk kelas selama setengah semester ke depan. Ini berarti ancaman bagi nilai-nilainya.

Hanya tinggal melewati satu belokan lagi dan ia tinggal berlari lurus ke depan menuju tangga masuk halaman sekolahnya. Tangga kematian menurut beberapa murid, selain karena lebarnya yang kurang lebih lima belas meter juga karena jumlah anak tangganya yang mencapai lima puluh buah. Tangga yang luar biasa menyiksa, tapi masih dirasa kurang jika Dini membayangkan kemarahan yang akan didapatnya dari Prof. Luvis. Dengan usaha keras dan perjuangan pantang menyerah, Dini berhasil melewati anak tangga terakhir. Kakinya yang sudah tidak dapat menahan beban tubuhnya sendiri ia paksakan kembali untuk berlari, sampai tiba-tiba—Brughh!—sebuah tabrakan tak terhindarkan terjadi sang korban dan tersangka yang notabennya adalah Dini terjatuh ke tanah. Dini menabrak seseorang yang sedang berdiri diam di depan lorong masuk sekolah. Seorang pemuda berambut putih terjatuh ke tanah, tidak lebih parah dari Dini yang selain jatuh, semua buku yang ia dekap didadanya pun terjatuh.

“Auwww,” dengan kesakitan Dini memegang kakinya, “Maafkan aku ya, sudah menabrakmu. Kau baik-baik saja?”

“Ya, tidak apa-apa. Sepertinya yang keadaannya harus lebih dikhawatirkan itu bukan aku.” Jawab pemuda tersebut sambil mengambilkan buku Dini yang terjatuh.

“Oh, maaf,” dengan cepat Dini membantu pemuda tersebut untuk mengambil bukunya, “Biar aku saja yang membereskannya.”

“Tidak apa-apa, biar kubantu. Sepertinya kau sedang buru-buru?”

“Ya, aku sudah terlambat. Kau tahu mentor kelasku yang sekarang sangatlah galak. Hukuman berat pasti sudah menjadi takdirku.” Jawab Dini sambil berusaha berdiri.

“Ehm, nih.” Sahut pemuda tersebut sambil menyerahkan buku yang ada di tangannya.

“Terima kasih! Aku duluan ya, waktu mengejar.” Dini mulai melanjutkan larinya

“Hei, tunggu dulu, bolehkah aku bertanya?”

Dengan kecepatan tidak terduga Dini segera mengerem langkahnya dan berbalik. “Ya, ada apa?”

“Bisa tunjukan dimana ruang kepala sekolah?”

“Lurus saja naik tangga lalu belok kiri dan ikuti lorongnya, pintu besar dari kayu mahoni itu ruangannya. Kau pasti bisa menemukannya.” Jawab Dini sambil berbalik dan meneruskan larinya yang terhenti selama sesaat. Ia tidak ingin menambah waktu terlambatnya.

“Terima kasih!” teriak sang pemuda

“Ya.” Jawab dini sembari mengangkat tangan kanannya.

Lorong masuk sekolahnya sudah dilewati. Sekolah bergaya Yunani yang luar biasa megah dengan gedung utama yang luar biasa besar dan beberapa gedung lainnya menemani di sekitarnya. Dini masih ingat ketika tahun pertama ia disini, betapa terpesonanya ia dengan keadaan sekolah yang luar biasa. Lorong masuk dengan lebar sepuluh meter dan tinggi kira-kira tujuh meter tersebut disangga oleh beberapa pilar raksasa. Perasaan kagum itu masih belum banyak berubah bahkan sampai sekarang.

Setelah cukup jauh ia berlari, akhirnya sampai juga di depan tangga. Di sebelah kanan dan kiri tangga tersebut terdapat dua buah lorong. Tanpa pikir panjang, Dini segera berbelok ke kanan dan berlari sekencang-kencangnya. Sepanjang perjalanan ia terus berpikir hukuman apa yang akan ia terima nanti, pasti bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Menurut pengalamannya selama setahun kebelakang dan pengalaman beberapa seniornya di sekolah tersebut, hukuman dari Prof. Luvis tidak pernah mengenal kata ampun. Pemikiran Prof. Luvis yang irrasional pun jadi salah satu alasan sikap disiplin sang mentornya tersebut. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya berdoa, berharap waktu akan berjalan mundur.

Setelah melewati beberapa pintu akhirnya ia sampai di depan kelasnya. Pintu tertutup membuat jantung Dini berdetak lebih cepat. Pintu yang terbuat dari kayu mahoni berwarna coklat dengan beberapa ukiran indah di pinggirannya. Sambil menutup matanya, Dini berusaha mengumpulkan semua keberanian yang masih ia miliki untuk membuka pintu yang berada dihadapannya tersebut. Pintu pun terbuka perlahan, Dini membuka mata dan betapa terkejutnya ia melihat kelas masih dengan keadaan santai. Terlihat beberapa anak masih mengobrol bahakan ada satu-dua anak yang sedang berusaha meyelesaikan tugas yang belum sempat mereka selesaikan.

Dengan perasaan riang gembira Dini melangkahkan kakinya masuk ketika salah satu sahabat baiknya memanggil.

“Pagi!” seru seorang gadis.

“Pagi juga!” balas Dini.

“Kok nafasmu memburu begitu? Habis berlari ya.”

“Ya, aku kan terlambat. Ngomong-ngomong tidak biasanya Prof. Luvis terlambat.” Kata Dini bingung.

“Memang tidak, lagipula kau tidak terlambat.”

“Kok bisa?” tanya Dini bingung.

“Sekarang kan masih jam delapan kurang lima menit, bagaimana kau ini.”

“HAH!!!” tidak percaya dengan perkataan temannya Dini melihat jam tangannya dan akhirnya ia percaya. Walau bingung ia hanya bisa bersyukur karena doanya beberapa saat yang lalu bisa terkabul.

Beberapa menit berlalu dan akhirnya masuklah Prof. Luvis dengan setumpuk buku melayang mengikutinya dari belakang. Dengan kibasan tongkat sihirnya ia menutup pintu masuk yang baru saja ia lalui. Rambutnya yang berwarna hitam kelam menutupi sebagian telinganya, dan untuk perutnya yang buncit itu—sepertinya tidak perlu penjelasan lebih lanjut.

“Kumpulkan tugas essai yang kuberikan sebelum liburan. Bagi yang tidak mengerjakan bersiap menerima hukumannya.” Dengan tegas ia mengancam.

Semua siswa memeriksa tas mereka masing-masing berusaha menyiapkan tugasnya secepat mungkin. Dengan cekatan beberapa siswa mengambil tugas mereka dari dalam tas masing-masing. Tidak terkecuali Dini, ia segera merogoh ke dalam tasnya dan berusaha mencari. Mukanya yang semula ceria berubah dengan cepat menjadi pucat pasi.

“Ah, Sial!” umpatnya.

“Kenapa Din?” tanya vilga.

“Aku sepertinya terlalu terburu-buru tadi pagi, pasti tugasku tertinggal di atas kasur. Bodohnya aku!” umpatnya pada dirinya sendiri. “Aku pasti kena hukuman lagi, menulis ulang seratus kali deh. Uh, sebal!”

“Ehm, sepertinya tidak akan, lebih tepatnya belum untuk saat ini.” Sanggah Vilga

“Maksudmu?” tanya Dini bingung.

“Nih,” Vilga menyerahkan sebuah buku, “Aku sudah tahu pasti begini jadinya makanya kubuatkan salinannya untukmu.”

“Wah benar nih?”

“Iya, itu tugasmu.”

“Ah, terima kasih, kau memang benar-benar malaikatku!” seru Dini senang.

“Dengan bantuan Ling juga tentunya, berterimakasihlah padanya juga.” Usul Vilga.

“Ok!” ujar Dini sambil tersenyum.

Tok.. Tok.. Tok..

“Selamat siang bolehkah saya menggangu sebentar?” seorang pria tua berjangggut putih memasuki ruangan. Ia mengenakan jubah berwarna putih yang sangat panjang. Berjalan masuk dengan gayanya yang berwibawa.

“Silahkan pak kepala, boleh saya tahu ada apa?” tanya Prof. Luvis.

“Tentu saja, saya membawa seorang siswa baru untuk kelas ini.”

“Begitu. Baiklah kalau begitu, silahkan!”

“Terimakasih Prof Luvis! Anak-anak sekarang kalian akan mendapat seorang teman baru, seorang anak pindahan. Bapak harap kalian bisa membantunya dalam beberapa tahun kedepan.” Saran sang kepala sekolah, “silahkan nak, perkenalkan dirimu!”

Seorang pemuda masuk ke ruangan tersebut. Rambut putih acak-acakan menutupi hampir sebagian matanya. Mengenakan setelan kemeja lengan pendek berwarna putih polos dengan satu kancing teratas dilepas. Di lehernya dihiasi dasi hitam dengan ikatan longgar dan celana panjang berwarna hitam. Sebuah tongkat kayu diselendangkan menyilang di punggungnya telah membuat semua orang terpana, terutama seorang siswi di kelas tersebut.

“Hai, namaku Ichio.”

***

“Tidak kusangka dia ternyata murid baru, pantas ku merasa belum pernah melihatnya.” Celoteh Dini.

“Kau sudah pernah bertemu dengannya?” tanya Vilga

“Yups!” jawab Dini.

“Dimana?” tanya Lingga antusias.

“Tadi pagi saat tabrakan. Sudahlah jangan membahas itu!” seru Dini tanpa memikirkan kebingungan temannya, “Lebih baik pikirkan rencana aneh kelas kita ini. Saat di kelas menyebarkan ajakan untuk makan bersama di taman, tidak tahu apa mereka kalau sekarang itu banyak tindakan pemberontakan pada pemerintah. Keadaan sungguh tidak aman, apalagi di tempat-tempat umum.”

“Sudahlah, nikmati saja jalan-jalan di taman ini. Kita kan sudah sebulan tidak berkumpul seperti ini.” sahut Vilga.

“Tapi kan sewaktu liburan kita bertiga sudah sering jalan-jalan bersama.” Dini berusaha memperbaiki komentar temannya tersebut yang dirasanya kurang tepat.

“Maksud Vilga adalah berkumpul sebagai teman sekelas, dengan teman sekelas, dan dalam acara kelas tentunya.” Tambah Lingga.

“Ya, itu yang kumaksud.” Kata Vilga.

“Tetap saja, keamanan lebih penting.” Sanggah Dini.

“Iya, iya. Yang penting sekarang kita itu sedang rekreasi oke!” sahut Vilga, “Lihat saja teman baru kita, sekarang sudah dikerumuni beberapa cewek dikelas.”

“Wah cukup populer ternyata.” balas Lingga

“Dengan sikapnya yang tenang itu, tidak salah jika sekarang ia jadi idola di kelas.” Kata Vilga

“Jangan lupakan wajahnya yang ganteng itu.” Kata Lingga

“Iya, itu juga. Dasar kau ini Ling, wajah selalu di nomor satukan.”

“Menurutku ia biasa saja, tidak ada yang istimewa.” Celoteh Dini pada kedua temannya yang memperhatikannya dengan pandangan curiga.

“Wah, ada yang cemburu nih?!” sindir Lingga.

“Tidak ada!” seru Dini keras. Seketika warna mukanya berubah menjadi merah, semerah ubi yang direbus hingga matang. Kejadian ini membuat Vilga dan Lingga tertawa terbahak-bahak.

Beberapa menit berjalan dan akhirnya rombongan kelas tersebut telah sampai di taman, tempat mereka akan melakukan rekreasi pelepas lelah. Cukup ramai keadaan taman saat itu. Tua, Muda semua ada untuk menghilangkan penat hari itu. Begitu sampai beberapa siswa langsung memesan makanan pada penjual sekitar, ada juga yang hanya duduk-duduk menunggu termasuk Dini. Ia tidak bisa habis pikir kenapa teman-temannya masih nekat datang ke tempat umum saat keadaan pemerintahan sedang tidak stabil. Namun lamunannya buyar saat kedua temannya datang membawakannya sebuah es krim. Dini menghentikan kegiatan tersembunyinya tersebut dan mulai berpikir bahwa mungkin memang ia yang terlalu berlebihan.

Sepuluh menit berlalu semua pengunjung senang dengan acara yang mereka adakan sendiri termasuk Dini beserta teman-temannya. Sampai lima pria berjubah hitam datang dan mulai melakukan beberapa tindakan provokasi. Salah seorang dari mereka merebut kursi yang sedang dipakai oleh seorang nenek tua untuk duduk hingga sang nenek terjatuh tergeletak di kaki sang pria. Tidak dapat menerima perlakuan yang didapat sang nenek Dini pun berdiri.

“Hei apa yang kalian lakukan!” teriaknya.

“Gadis kecil, kami hanya melakukan hal yang kami anggap perlu. Kami akan menyandera semua orang disini. Tidak ada pengecualian. Kami akan membuat pemerintah memenuhi semua keinginan kami, keinginan kita, keinginan rakyat yang selalu dijadikan tameng keslahan pemerintah. Kami disini untuk membuat pemerintah sadar akan kesalahan mereka.”

“Tapi dengan membuat semua orang terluka?! Kalian tidak lebih baik dari pemerintahan yang sekarang.”

“Kau harus tahu, ini semua kami lakukan untuk kalian juga. Untuk rakyat yang tertindas oleh pemerintahan yang sekarang.”

“Tidak! Kalian hanya pengacau yang berusaha memanfaatkan situasi dunia yang sedang tidak karuan ini demi kepentingan kalian sendiri.

“Berani-beraninya kau berkata seperti itu!” seru marah pria tersebut.

Dengan cepat pria tersebut mengayunkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke arah Dini. Tanpa persiapan yang cukup, Dini tidak dapat menghindari magic misil yang datang ke arahnya. Ketakutan menyelimutinya selama sesaat. Ia berpikir bodohnya dia, melakukan tindakan tanpa berpikir panjang. Melakukan sesuatu yang ia tahu dapat membuat dirinya sendiri celaka tanpa memesang pertahanah yang cukup. Sekarang ia hanya bisa pasrah pada takdir dan menutup kedua matanya pada saat misil tersebut hampir mengenainya. Tapi,

DUARHHH—misil telah meledak sebelum sempat menyentuh badannya. Dengan perlahan ia membuka mata. Dengan kedaan yang masih shock dengan kejadian yang baru saja ia alami, ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Sebuah misil lain datang dari arah berlainan dan telah menyelamatkannya.

“Bukannya tidak fair menyerang seorang wanita tanpa persiapan.” Ujar sebuah suara.

“Siapa yang melakukannya? Berani-beraninya menggangu kami!” seru salah satu pria

“Kalau mau lawanlah lawan yang sepadan.” Dengan tenang Ichio memasuki medan pertempuran. Tongkat yang ia selendangkan di punggungnya telah siap siaga di tangan.

“Dasar sialan! Ayo teman-teman serang anak sombong ini.” Seru marah sang pria.

Kali ini lima pria tersebut mengayunkan tongkat secara bersamaan dan lima misil datang menghampiri Ichio dalam waktu yang hampir bersamaan. Dua dihindari Ichio dengan lincah, satu ia pantulkan ke angkasa dan sisanya berhasil ia netralkan. Tidak mudah menyerah, kelima pria tersebut mengeluarkan sihir yang lebih kuat dan Ichio pun tidak takut untuk melayaninya. Terjadilah perang sihir, mantera melayang disana-sini. Dua patung hancur, satu pohon terbelah, Dua gerobak pedagang berubah menjadi debu halus yang segera berterbangan dihembuskan oleh angin lewat dan murid-murid meloncat seperti katak berusaha menghindar. Perang terus belanjut, Cahaya berwarna merah dan biru yang dikeluarkan oleh penyihir yang sedang bertarung lalu lalang diatas kepala para siswa dan masyarakat sekitar yang berusaha berlindung dari pertempuran yang luar biasa tersebut. Tidak ada satupun dari dua kubu yang sedang bertarung yang menurunkan konsentrasi dan kekuatan serangan sihirnya. Hanya tinggal menunggu waktu sampai seisi taman berubah menjadi padang rumput gersang yang ditutupi debu kayu. Seluruh penonton yang bersembunyi ketakutan tahu akan hal itu dan tanpa berpikir panjang tanpa berpikir bahwa mungkin mereka akan terkena salah satu misil sihir yang dikeluarkan, berlari dengan cepat menjauh dari medan pertempuran. Mereka semua mencari tempat berlindung yang lebih aman, jauh dari sumber pertempuran. Bagi para siswa mereka mencari tempat yang aman sekaligus nyaman untuk menonton pertarungan sihir tersebut.

Pertempuran berlangsung dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Dini yang berdiri di belakang Ichio, hanya bisa diam dan tetap waspada karena mungkin saja salah satu serangan akan mengarah kepadanya. Ia bisa tetap tenang karena di hadapannya berdiri Ichio yang berada disana karena berniat menyelamatkannya.

Pertempuran terus berlanjut sampai Ichio mendapatkan celahnya dan segera melemparkan mantera penjerat. Sebuah jaring sihir keluar dari tongkat besarnya dan menjerat lima pria sekaligus. Berakhirlah perang sihir tersebut dan dengan suka cita seluruh kelas menghampiri Ichio dan Dini yang berdiri di sampingnya. Tapi, dalam sekejap Ichio roboh tepat ke arah Dini berada, menimbulkan kecemasan di benak semua orang.

“Chio, kau tidak apa-apa?” tanya Dini cemas.

“Ya, hanya sedikit luka di perut. Sepertinya terkena saat berusaha menghindar tadi.”

“Dasar bodoh!” seru Dini, “Tapi terima kasih sudah menyelamatkanku. Hari ini aku benar benar sangat beruntung.”

“Tadi pagi kau tidak terlambatkan?”

“Ya, itu contohnya dan—Tunggu sebentar! Bagaimana kau tahu. Jangan-jangan—“

“Sedikit mantera waktu, hanya itu.” Jawab Ichio santai sambil memegangi perutnya.

“Dasar! Ternyata kau ya, pantas aku merasa ada yang aneh.” Seru Dini sambil memukul pundak pemuda yang sedang tidur di pangkuannya itu.

“Auwww, sakit tahu! Apa yang kau lakukan.” Seru Ichio pelan.

“Hanya agar pemuda sombong ini tidak melakukan hal yang aneh-aneh lagi yang mungkin dapat mencelakan ataupun membuat bingung orang lain. Tapi, ya, terima kasih.” Ucap Dini.

“Tadi pagikan kubilang akan membantu, jadi—“

“Iya-iya, sekarang istirahatlah, teman-teman khawatir sekali padamu. Lihat tuh, mereka sekarang sedang menghampiri kita berdua. Oh iya, sebaiknya kau diam dulu untuk sementara, aku akan mencoba mengobati lukamu ini.”

“Ya, baiklah.” Sahut ichio sambil menutup kedua matanya berusaha untuk tidur.

0 komentar:

Posting Komentar