31 Jul 2009

Inteligensi dan IQ

Inteligensi dan IQ

Menurut David Wechsler, inteligensi adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif. secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Oleh karena itu, inteligensi tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional itu.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi adalah :

Faktor bawaan atau keturunan

Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 - 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 - 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

Faktor lingkungan

Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti. Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

Inteligensi dan IQ

Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dariIntelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.

Skor IQ mula-mula diperhitungkan dengan membandingkan umur mental (Mental Age) dengan umur kronologik (Chronological Age). Bila kemampuan individu dalam memecahkan persoalan-persoalan yang disajikan dalam tes kecerdasan (umur mental) tersebut sama dengan kemampuan yang seharusnya ada pada individu seumur dia pada saat itu (umur kronologis), maka akan diperoleh skor 1. Skor ini kemudian dikalikan 100 dan dipakai sebagai dasar perhitungan IQ. Tetapi kemudian timbul masalah karena setelah otak mencapai kemasakan, tidak terjadi perkembangan lagi, bahkan pada titik tertentu akan terjadi penurunan kemampuan.

Pengukuran Inteligensi

Pada tahun 1904, Alfred Binet dan Theodor Simon, 2 orang psikolog asal Perancis merancang suatu alat evaluasi yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan kelas-kelas khusus (anak-anak yang kurang pandai). Alat tes itu dinamakan Tes Binet-Simon. Tes ini kemudian direvisi pada tahun 1911.

Tahun 1916, Lewis Terman, seorang psikolog dari Amerika mengadakan banyak perbaikan dari tes Binet-Simon. Sumbangan utamanya adalah menetapkan indeks numerik yang menyatakan kecerdasan sebagai rasio (perbandingan) antara mental age dan chronological age. Hasil perbaikan ini disebut Tes Stanford_Binet. Indeks seperti ini sebetulnya telah diperkenalkan oleh seorang psikolog Jerman yang bernama William Stern, yang kemudian dikenal dengan Intelligence Quotient atau IQ. Tes Stanford-Binet ini banyak digunakan untuk mengukur kecerdasan anak-anak sampai usia 13 tahun.

Salah satu reaksi atas tes Binet-Simon atau tes Stanford-Binet adalah bahwa tes itu terlalu umum. Seorang tokoh dalam bidang ini, Charles Sperrman mengemukakan bahwa inteligensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor), tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Teori ini disebut Teori Faktor (Factor Theory of Intelligence). Alat tes yang dikembangkan menurut teori faktor ini adalah WAIS (Wechsler Adult Intelligence Scale) untuk orang dewasa, dan WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) untuk anak-anak.

Di samping alat-alat tes di atas, banyak dikembangkan alat tes dengan tujuan yang lebih spesifik, sesuai dengan tujuan dan kultur di mana alat tes tersebut dibuat.

Inteligensi dan Bakat

Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.

Alat yang digunakan untuk menyingkap kemampuan khusus ini disebut tes bakat atau aptitude test. Tes bakat yang dirancang untuk mengungkap prestasi belajar pada bidang tertentu dinamakanScholastic Aptitude Test dan yang dipakai di bidang pekerjaan adalah Vocational Aptitude Test dan Interest Inventory. Contoh dari Scholastic Aptitude Test adalah tes Potensi Akademik (TPA)dan Graduate Record Examination (GRE). Sedangkan contoh dari Vocational Aptitude Test atau Interest Inventory adalah Differential Aptitude Test (DAT) dan Kuder Occupational Interest Survey.

Inteligensi dan Kreativitas

Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

Para ahli telah berusaha mencari tahu mengapa ini terjadi. J. P. Guilford menjelaskan bahwa kreativitas adalah suatu proses berpikir yang bersifat divergen, yaitu kemampuan untuk memberikan berbagai alternatif jawaban berdasarkan informasi yang diberikan. Sebaliknya, tes inteligensi hanya dirancang untuk mengukur proses berpikir yang bersifat konvergen, yaitu kemampuan untuk memberikan satu jawaban atau kesimpulan yang logis berdasarkan informasi yang diberikan. Ini merupakan akibat dari pola pendidikan tradisional yang memang kurang memperhatikan pengembangan proses berpikir divergen walau kemampuan ini terbukti sangat berperan dalam berbagai kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan.

LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2008) ROHTO

LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2008) ROHTO

Deadline: 10 Oktober 2008

PT ROHTO-MENTHOLATUM Kembali menyelenggarakan LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA (LMCR-2008)


Deadline: 10 Oktober 2008

PT ROHTO-MENTHOLATUM
Kembali menyelenggarakan
LOMBA MENULIS CERPEN REMAJA(LMCR-2008)
Memperebutkan
LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
Berhadiah Total Rp 80 Juta

• Peserta: Pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Guru/Umum

Kategori Lomba
Lomba terdiri dari (tiga) kategori peserta. Kategori A, Peserta PelajarSLTP, Kategori B, Peserta Pelajar SLTA. Kategori C, Peserta Mahasiswa/Umum

Syarat-syarat Lomba

1. Lomba ini terbuka untuk pelajar SLTP, SLTA dan Mahasiswa/Umum dari seluruh Indonesia atau yang sedang studi/dinas di luar negeri. Kecuali, karyawan PT ROHTO Lab. Indonesia/agennya dan Panitia Pelaksana
2. Lomba dibuka tanggal 1 Juli 2008 dan ditutup tanggal 10 Oktober 2008 (Stempel Pos)
3. Tema cerita: Dunia remaja dan segala aspek serta aneka rona kehidupannya (cinta, kebahagiaan, kepedihan, harapan, kegagalan, cita-cita, penderitaan maupun kekecewaan
4. Judul bebas tetapi harus mengacu pada tema Butir 3
5. Setiap peserta boleh mengirimkan lebih dari satu judul
6. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik, benar, indah (literer) dan komunikatif
7. Naskah harus asli (bukan jiplakan) dan belum pernah dipublikasikan serta tidak sedang diikutsertakan dalam lomba serupa yang bukan diselenggarakan oleh PT ROHTO
8. Ketentuan naskah:

a. Ditulis di atas kertas ukuran kuarto (A-4), ditik berjarak 1,5 spasi, format 12 point, font Times New Roman, margin kiri-kanan rata (Justified)
b. Panjang naskah minimal 6 (enam) halaman, maksimal 10 (sepuluh) halaman
c. Naskah yang dikirimkan ke Panitia LMCR-2008 dalam bentuk print-out 3 (tiga) rangkap (copy) disertai file dalam CD
d. Naskah disertai ringkasan cerita (synopsis), biodata singkat pengarang, foto pose bebas ukuran 4R dan fotocopy identitas pengarang (pilih satu: KTP/Kartu Pelajar atau Kartu Mahasiswa, SIM atau Paspor yang masih berlaku
e. Setiap judul naskah yang dilombakan wajib dilampiri 1(satu) kemasanLIP ICE jenis apa saja atau seal/segel pengaman SELSUN GOLD FOR TEENS/SENSUN BLUE 5
f. Naskah yang dilombakan beserta persyaratannya dimasukkan ke dalam amplop tertutup (dilem), cantumkan tulisan PESERTA LMCR-2008 dan Kategorinya
g. Naskah dan persyaratan (Butir f) dikirim ke alamat Panitia LMCR-2008LIP ICE- SELSUN GOLDEN AWARD – Jalan Gunung Pancar No.25 Bukit Golf Hijau, Sentul City, Bogor 16810 – Jawa Barat
h. Hasil lomba diumumkan 10 November 2008 melalui Tabloid Rayakultura Edisi November 2008, www.rayakultura.net danwww.rohto.co.id atau hub HP 08158118140
9. Keputusan Dewan Juri bersifat final dan mengikat

10. Naskah yang dilombaklan jadi milik PT ROHTO, hak cipta milik pengarangnya

Hasil Lomba
Masing-masing kategori: Pemenang I, II, II dan 5 (lima) Pemenang Harapan Utama serta 10 (Sepuluh) Pemenang Harapan


Hadiah Untuk Pemenang


- Kategori A: SLTP
Pemenang I: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD;
Pemenang II: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN;
Pemenang III: Uang Tunai Rp 2.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN.

Selanjutnya, 5 (lima) Pemenang Harapan Utama, masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN.

Untuk 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan dari PT ROHTO.

Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen PemenangLMCR-2007
Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh hadiah sebuah televisi


- Kategori B: SLTA
Pemenang I: Uang Tunai Rp 5.000.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD;
Pemenang II: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN;
Pemenang III: Uang Tunai Rp 3.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN.

Hadiah untuk 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN.

Bagi 10 (sepuluh) Pemenang Harapan masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN dan Bingkisan dari PT ROHTO. Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen Pemenang LMCR-2007

Hadiah untuk sekolah Pemenang I, II dan III masing-masing memperoleh hadiah sebuah televisi


- Kategori C: Mahasiswa, Guru dan Umum
Pemenang I: Uang Tunai Rp 7.500.000,- + LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD;
Pemenang II: Uang Tunai Rp 6.000.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN;
Pemenang III: Uang Tunai Rp 4.000.000,- + Piagam LIP ICE SELSUN.

Bagi 5 (lima) Pemenang Harapan Utama masing-masing mendapat Uang Tunai Rp 1.500.000,- + Piagam LIP ICE-SELSUN.

Pemenang Harapan 10 pemenang, masing-masing mendapat Piagam LIP ICE-SELSUN + Bingkisan dari PT ROHTO.

Seluruh Pemenang mendapat hadiah ekstra 1 (satu) Buku Kumpulan Cerpen PemenangLMCR-2007

Catatan:
Pajak hadiah para pemenang ditanggung oleh PT ROHTO Laboratories Indonesia

Ketua Panitia LMCR-2008
Dra. Naning Pranoto, MA

Sumber: Poster Digital di Wesite ROHTO dan RayaKultura

Beasiswa untuk SMA / Sederajat 2009/2010 dari LintangIndonesia

Beasiswa untuk SMA / Sederajat 2009/2010 dari LintangIndonesia

Pada tahun ajaran 2009/10 ini, sebuah wadah perkumpulan pelajar Indonesia di Eropa, khususnya Irlandia yang bernama LintangIndonesia akan memberikan beasiswa sebesar Rp150.000 per bulan untuk pelajar di Indonesia tingkat SMA/MA/SMK atau yang sederajat. Beasiswa akan diberikan selama 12 bulan (Juli 2009 – Juni 2010) kepada 25 siswa.

Aplikasi beasiswa dibuka sampai tanggal 31 Agustus 2009, hasil seleksi akan diumumkan pada akhir September 2009.

FORMULIR APLIKASI

Download pengumuman resminya, klik disini (pdf)
Download formulir aplikasi, klik disini untuk file pdf, klik disini untuk file doc.

Aplikasi dan dokumen pendukung bisa dikirimkan ke sekretariat :

LintangIndonesia
Komplek Gedung Putih
Pondok Krapyak
Yogyakarta 55011

Website: http://lintangindonesia.org/

FREEMIND: SOFTWARE PETA PIKIRAN

FREEMIND: SOFTWARE PETA PIKIRAN

FreeMind adalah program untuk memetakan pikiran yang memungkinkan Anda mencatat jadwal, proyek sekolah, atau gagasan. Sebenarnya, sekali Anda memakaisoftware ini, Anda akan selalu menemukan kegunaan baru.

Sebenarnya apakah FreeMind itu? Pada hakekatnya, program ini menawarkan ruang kerja sederhana dimana Anda bisa mencatat pikiran Anda.

Anda bisa mulai pikiran sederhana di tengah layar, melambangkan gagasan utama Anda. Kemudian menambahkan sub topik berbeda untuk mengembang gagasan pertama Anda, yang dapat membawa pada subyek yang lebih spesifik, dan semacamnya.

Akhirnya Anda sampai dengan pandangan sederhana mengenai proyek atau gagasan Anda. Proses ini memungkinkan pengguna secara leluasa mencurahkan gagasan-gagasan (brainstorm) tanpa perlu mengingat semua gagasan berbeda dan bagaimana mereka berhubungan.

Misalnya, dengan proyek sekolah, Anda bisa memisahkan gagasan utama dan memetakan referensi serta masalah pokok masing-masing hal. Untuk proyek penelitian, Anda bisa memetakan subyek, informasi bagian-bagian subyek, dan informasi yang perlu ditemukan bagi masing-masing subyek, kemudian meng-update peta Anda dari waktu ke waktu.

Untuk dapat menata peta pikiran secara sederhana, seluruh cabang dapat diminimkan, meninggalkan hal-hal yang penting untuk saat ini. Anda juga bisa mengatur warna, ukuran, jenis huruf, dan gaya mereka; atau menambahkan grafis, menghubungkan bagian-bagian berbeda, atau menaruh area pikiran-peta ke dalam "gelembung" pikiran.

Jika Anda membuat beberapa peta pikiran, program ini bisa perpindah-pindah dengan beberapa klik. Proses mengganti di antara peta pikiran adalah luar biasa cepat, dengan waktu loading sangat sedikit.

Anda juga bisa menambahkan hyperlink ke situs dan membesarkan atau mengecilkan peta. Program ini mudah digunakan dan cepat di pelajari. Untuk memudahkan Anda memulai, juga tersedia tutorial (ditulis sebagai pikiran-peta). Situs FreeMind juga menawarkan video instruksi.


Program bisa di download gratis di: http://freemind.sourceforge.net/wiki/index.php/Download


Peta Pikiran (MIND MAPPING)

Peta Pikiran (MIND MAPPING)

Sistem berpikir secara teratur sebenarnya sudah mulai dikembangkan para ahli Yunani. Sistem ingatan yang dikembangkan oleh orang-orang Yunani yang memungkinkan mereka untuk mengingat kembali ratusan dan ribuan fakta dengan sempurna. Sistem ingatan dari Yunani ini berdasarkan Imajinasi dan Asosiasi. Berdasarkan kekuatan Imajinasi dan Asosiasi ini, Toni Buzan menemukan suatu alat berpikir yang berdasarkan cara kerja alamiah otak, alat yang sederhana, yang benar-benar mencerminkan kreativitas dan kecemerlangan alamiah dalam proses berpikir, yaitu dengan peta pikiran (mind map®).
Peta pikiran ini sebenarnya bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk membuat catatan tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk merekam pola pikiran ke dalam bentuk tertulis. Tulisan yang dibuat tidak berupa tulisan yang flat tetapi di gambarkan menyerupai jejaring. Jejaring tersebut dimulai dari topik apa yang akan di catat atau topik apa yang akan diringkas dari suatu buku/artikel yang di baca atau materi apa yang mau disajikan dalam presentasi. Dengan PETA PIKIRAN ini otak akan terpancing untuk memberikan alur-alur apa saja yang akan terhubung dengan pokok basahasan yang akan di detailkan atupun di ringkas.

Kekurangan Catatan Liner :
- Waktu terbuang untuk menulis kata-kata yang tidak memiliki hubungan dengan ingatan
- Waktu terbuang untuk membaca kembali kata-kata yang tidak perlu (+/- 90%)
- Waktu terbuang untuk cari kata kunci pengingat
- Hubungan kata kunci pengingat terputus oleh kata-kata yang memisahkan
- Kata kunci pengingat terpisah oleh jarak

Kelebihan PETA PIKIRAN
- Mudah melihat gambaran keseluruhan
- Membantu Otak untuk : mengatur, mengingat, membandingkan dan membuat hubungan
- Memudahkan penambahan informasi baru
- Pengkajian ulang bisa lebih cepat
- Setiap peta bersifat unik.


langkah-langkah membuat peta pikiran :

Untuk membuat Peta Pikiran ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan yaitu konsep utama, isu utama, sub-isu (dari setiap isu utama), sub-sub-isu (dari setiap sub-isu), dan Proposisi. Bagaimana langkah-langkah membuat Peta Pikiran?
Dalam bahan ajar Prof Dr. I.G.A.K. Wardhani, MSc.Ed. ada 5 langkah membuat Peta Konsep atau Peta Pikiran
yaitu :

- Tentukan Satu Isu Utama. Letakan dalam kota di tengah-tengah kertas.
- Pikirkan Isu Utama yang berhubungan dengan konsep utama. Tuliskan konsep-konsep tersebut, gambarkan, dantunjukkan hubungannya dengan konsep utama.
- Identifikai Sub-Isu, yang berhubungan dengan isu utama dan tentukan hubungannya.
- Identifkasi Sub-sub-isu, yang berhubungan dengan sub-isu dan tentukan hubungannya.
- Reviu, bertujuan untuk ketepatan dan kelengkapan konsep serta proposisinya.

Sedangkan menurut Tony Buzan dalam bukunya “Mind Mapping”, ada 7 langkah membuat Peta Pikiran :

- Mulai dari bagian Tengah kertas kosong yang sisinya panjang diletakan mendatar. Alasan, karena memulai dari tengah memberi kebebasan kepada otak untuk menyebarkan ke segala arah dan untuk mengungkapkan dirinya dengan lebih bebas dan alami.
- Gunakan gambar atau foto untuk ide sentral Anda. Alasan, karena gambar bermaksa seribu kta dan membantu kita menggunakan imajinasi. Sebuah gambar sentral akan lebih menarik, membuat kita tetap terfokus, membantu kita berkonsentrasi, dan mengaktifkan otak kita.
- Gunakan warna. Alasan, karena bagi otak, warna sama menariknya dengan gambar. Warna membuat Peta Pikiran lebih hidup, menambah energi kepada Pemikiran Kreatif, dan menyenangkan.
- Hubungkan Cabang-Cabang Utama ke gambar pusat dan hubungkan cabang-cabang tingkat dua dan tiga ke tingkat satu dan dua, dan seterusnya. Alasan, karena otak bekerja menurut asosiai. Otak senang mengaitkan dua (atau tiga, atau empat) hal sekaligus. Bila kita menghubungkan cabang-cabang, kita akan lebih mudah mengerti dan mengingat.
- Penghubungan cabang-cabang utama akan menciptakan dan mementapkan struktur dasar atau arsitektur pikiran kita. Ini serupa dengan cara pohon mengaitkan cabang-cabangnya yang menyebar dari batang utama. Jika ada celah-celah kecil di antara batang sentral dencan cabang-cabang utamanya atau di antara cabang-cabang utama dengan cabang dan ranting yang lebih kecil, alam tidak akan bekerja dengan baik.
- Buatlah garis hubung yang Melengkung, bukan garis lurus. Alasan, karena garis lurus akan membosankan otak. Cabang-cabang yang melengkung dan organis, seperti cabang-cabang pohon, jauh lebih menarik bagi mata.
- Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis. Alasan, karena kata kunci tunggal memberi lebih banyak daya dan flesibilitas kepada Peta Pikiran. Setiap kata tunggal atau gambar adalah seperti pengganda, menghasilkan sederet asosiasi dan hubungannya sendiri. Bila kita menggunakan kata tunggal, setiap kata ini akan lebih bebas dan cenderung menghambat efek pemicu ini. Peta pikiran memiliki lebih banyak kata kunci seperti tangan yang semua sendi jarinya bekerja.
- Gunakan gambar. Alasan, karena seperti gambar sentral, setiap gambar bermaksa seribu kata. Jika bila kita hanya mempunyai 10 gambar di dalam Peta Pikiran kita, Peta Pkiran kita sudah setara dengan 10.000 kata catatan.

contoh dari peta pikiran :




daftar pustaka :
  • ksupointer.com
  • www.epochtimes.co.id
  • izzuddin.com