10 Mei 2009

School of Magic

Romance in Sakura

( Part 1 )

Sakura yang berguguran

Menutup musim ini dengan keindahan

Bahagia menjadi kenyataan

Impian terwujud.

Suara hati membuka

Membuka permulaan baru

Dari kegelisahan musim lalu,

“Benarkan,

Dini?”

“Dini, bangun! Sudah jam pulang.” Seru Vilga

“Lima menit lagi mum.” Sahut Dini.

“Dini, ini bukan di rumah tapi sekolah.”

“Hah, masa!” Dini terbangun dengan kagetnya. “Aku ketiduran ya?”

“Ya, sepanjang kelas pertahanan sihir. Untungnya Prof. Misa tidak hadir.” Jawab Vilga sambil membereskan dan memasukan semua bukunya ke dalam tas.

Dini Segera membereskan semua bukunya yang ada di atas meja. Tidak lupa pula ia memasukan tongkat sihirnya ke dalam sebuah kotak persegi panjang yang menggantung tegak pada sebuah tali yang melingkari pinggangnya. Segera saja kedua sahabat itu berjalan berbarengan menuju aula depan—tempat dimana hampir semua murid sekolah sihir berkumpul setelah waktu pulang sekolah, sebelum mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Belum jauh mereka berjalan, Dini teringat akan mimpinya, mimpi yang sangat membingungkannya. Ia ingin sekali meminta pendapat temannya ini tentang mimpinya.

“Kau tahu aku bermimpi aneh.” Ujar Dini saat sedang berjalan bersama Vilga di lorong sekolah.

“MIMPI APA?” dari arah belakang terdengar suara seorang gadis. Kedua tangannya mengarah menuju pundak berusaha merangkul kedua temannya tersebut.

“Lingga!” seru Dini dan Vilga secara bersamaan.

“Kenapa? Sahut lingga dengan penuh tanya.

“Jangan melakukan itu lagi!” Dini berusaha menengokan kepalanya.

“Mengagetkan tahu.” Sahut Vilga berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak keras sekali.

“Iya, iya. Maaf!” sesal Lingga. “Ngomong-ngomong kalian sudah bersiap?”

“Untuk apa?” tanya Vilga

“Festival Sakura, masa kalian lupa?”

“Oh itu, belum, belum sepenuhnya.” Ucap Dini, “Aku mendapat banyak tugas dari Prof. Miffer. Cukup untuk membuatku sibuk sampai minggu depan.”

“Ayolah, santailah sedikit.” Ajak Lingga.“Festival Sakura, tempat dimana pesta paling meriah di musim gugur diadakan. Sebuah pesta yang dilatari oleh bunga sakura yang berguguran. Legenda mengatakan pada saat inilah sihir terkuat tercipta, sihir yang dapat mengabulkan semua permohonan, terutama percintaan. Banyak sekali—“

“Pasangan yang tercipta saat festival kan.” Potong Vilga. “Iya kami tahu itu semua Ling.”

“Kalau begitu kalian sudah mendapat pasangan? Aku sendiri sudah. Tidak enak bila harus datang sendirian ke pesta.” Tanya Lingga

“Sudah.” Jawab Vilga.

“Belum.” Dengan dinginnya Dini menjawab.

“Hah, masa?” seru Lingga kaget, “Ayolah Din, tinggal seminggu lagi.”

“Iya iya, nanti saja. Masih ada seminggu kan, aku masih banyak kegiatan lain.” Jawab Dini tenang. “Teman-teman aku duluan!” seru Dini pada kedua temannya saat berada di pertigaan jalan. Arah rumah Dini sendiri berbeda arah dengan arah rumah Vilga dan Lingga.

“Ya!” balas Vilga dan Lingga bersamaan.

Setelah mengambil belokan yang berbeda dari kedua temannya itu Dini melanjutkan perjalanan pulangnya. Di tengah perjalanan Dini mencoba memikirkan omongan Lingga tentang festival Sakura, mungkin ia harus lebih serius dalam mempersiapkan diri. Tapi sekarang ibunya sedang sakit jadi ia harus membantu ibunya untuk menjaga toko serta mengantarkan pesanan. Ia juga sedang berusaha untuk mencari kerja sambilan untuk membeli pakaian untuk festifal sakura. Karena jadwalnya yang super sibuk itu ia jadi tidak bisa terlalu serius dalam hal pasangan. Staminanya terlalu sedikit, bahkan untuk pelajaran sekalipun.

Ditengah lamunannya, Dini melihat seseorang yang tampak familiar berjalan tidak jauh di depannya. Dengan sedikit ragu-ragu Dini mencoba memanggil orang tersebut.

“Ichio!” teriak Dini dengan nada yang cukup keras.

Dengan cepat Ichio menoleh ke arah Dini dan membalas, ”Oh, Hai!”

“Chio apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Dini dengan penasaran.

“Tentu saja pulang ke rumah. Kau sendiri?”

“Sama sepertimu, aku juga pulang ke rumah. Tapi aku tidak pernah menyangka kalau rumah kita berdua searah.”

“Hhm...” senyum Ichio.

“Uhhh, napa kau hanya tersenyum. Oh iya, boleh aku tahu dimana rumahmu?”

“Di utara.”

“Utara?” tanya Dini bingung.

“Yups, di rumah besar bergaya Eropa.”

“HAH! Di rumah tua itu. Tidak kusangka akan ada yang mau menghuni rumah tua itu. Yah, tidak dapat dipungkiri kalau rumah tua itu memiliki gaya arsitektur yang hebat, Ciri khas Eropa yang sangat indah. Tapi tetap saja tidak kusangka akan ada orang yang mau tinggal di sana.”

“Aku mau.” Sahut Ichio

“Ya, mungkin aku harus merubah pendapatku selama ini.” Balas Dini sambil memegang wajahnya. “Ngomong-ngomong, kapan-kapan datanglah ke rumahku. Dekat kok dengan rumahmu. Toko roti terbaik yang ada di kota ini.” Ajak Dini.

“Ok, akan aku pikirkan.”

Cukup lama mereka berjalan bersama menuju rumah masing-masing. Obrolan-obrolan seru pun banyak tercipta dari kejadian tersebut. Waktu yang lama terasa berubah jadi sesaat, jarak yang jauh terasa sangat dekat. Ketentraman perjalanan mereka berlanjut sampai dengan keras Dini berkata.

“ASTAGA!!!”

“Ada apa Din?” tanya Ichio

“Aku lupa kalau tadi ingin menceritakan sesuatu pada Vilga?”

“Sesuatu?”

“Mimpiku!”

“...??”

“Begini, tadi saat jam pelajaran aku itukan tertidur...”

“Tertidur?!”

“Bukan itu maksudku, tapi saat tertidur itu aku bermimpi aneh.”

“Jadi tadi saat jam pelajaran kau tertidur ya!”

“Uhh, kau ini! Sudah kubilang jangan bahas itu lagi.” Teriak Dini marah.

“Iya, iya.”

“Begini, saat itu aku sedang bermimpi berada di suatu tempat yang sangat gelap. Karena bingung kuputuskan untuk berjalan-jalan. Setelah beberapa saat akhirnya aku menemukan secercah cahaya yang bersinar sangat terang. Aku berjalan hingga cukup dekat untuk mengetahui bahwa sumber cahaya itu adalah sebuah pohon sakura yang bermekaran dengan indahnya...”

“Oh...” sahut Ichio, berusaha mendengarkan dengan seksama.

“...yang membuatku lebih bingung lagi karena di depan pohon itu berdiri seseorang dengan mengenakan jubah menutupi hampir semua wajahnya. Orang itu berkata sesuatu. Tapi aku lupa apa yang ia katakan karena keburu dibangunkan oleh Vilga.”

“Hhm...” tawa Ichio pelan.

Tuh kan malah tertawa! Memangnya ada yang lucu ya.”

“Maaf-maaf, bukan maksudku. Memang lebih baik kau menceritakannya pada vilga.”

“Maksudmu?”

“Karena mungkin saja itu pertanda.”

“Pertanda?! Pertanda macam apa?” tanya Dini bingung.

“Tidak tahu ya...” jawab Ichio dengan penuh rasa usil.

“Uh, dasar pelit!!!” seru dini.

“Itu rumahmu kan?” tunjuk Ichio pada sebuah bangunan yang berada 2 rumah dari tempat ia berada. Sebuah bangunan menyerupai sebuah toko dengan kios dan papan nama terpajang diatas pintu rumah.

“Oh, iya... ternyata kita sudah sampai di depan rumahku.” Dengan muka yang polos Dini berkata, “Apa kau mau mampir dulu? Sekedar minum teh.”

“Tidak usah. Aku ingin bergegas pulang, ada beberapa hal yang harus kulakukan.”

“Ehm, baiklah kalau begitu.”

“Eh, Dini, kamu sudah pulang ya!” sapa seorang wanita dari balik kios.

“Iya, Bu!” balas Dini.

“Itu siapa? Temanmu?” tanya ibunda Dini.

“Selamat siang tante! Perkenalkan saya Ichio teman sekelas Dini di Magic School.” Sapa Ichio ramah.

“Oh, tidak mampir dulu?” tanya ibunda Dini.

“Tidak ibu, ia masih banyak kesibukan yang harus dilakukan.” Sahut Dini.

“Oh sayang sekali ya.”

“Ya sudah tante, saya pulang dulu. Dini duluan ya!” seru Ichio.

“Iya...” balas Dini dengan sedikit malas.

Setelah memberi salam perpisahan pada Ichio, Dini bergegas masuk ke rumahnya dan segera berlari menuju ke lantai dua ke arah kamarnya. Setelah ia mencuci tangan dan wajahnya ia segera turun ke arah ruang makan dan mengobrak-abrik kulkas sekedar mencari air dingin. Cuaca di luar yang sangat menyengat membuat Dini tidak tahan untuk segera mencari kesegaran dari arah kulkas. Selesai dengan misi pertamanya, ia segera pergi ke kamarnya untuk berganti baju dan menjalankan misi keduanya yaitu, bekerja.

“Ibu aku mengantarkan pesanan Ny. Luis dulu ya!” pamit Dini pada ibunya.

“Dini, kau sudah makan?” tanya Ibunya

“Nanti saja, sepulang dari sana. Pesanan ini harus segera kuantar. Aku pergi dulu ya!” Sahut Dini dengan lantang pada ibunya.

“Dini tunggu sebentar, ada yang ingin ibu bicarakan.”

“Ada apa lagi bu?” tanya Dini heran.

“Bagaimana persiapan festival sakuramu? Jangan sampai karena kau membantu ibu sehingga kamu lupa akan acaramu Dini!”

“Aku tidak lupa, akupun sekarang sedang mengusahakan uang untuk membeli gaun yang kuinginkan. Hanya saja persiapanku tidak sesiap teman yang lain.”

“Sebaiknya kau konsentrasi saja untuk festival sakuramu.”

“Tidak ibu, kondisi Ibu masih belum memungkinkan untuk bekerja sendiri. Aku akan terus menjaga dan membantu ibu sampai kondisi ibu benar-benar baik. Lagipula ibu tenang saja aku pun sudah mempunyai rencana untuk pestaku.”

“Ya, sudah kalau begitu. Sebaiknya kau jangan bekerja terlalu keras agar kau tidak terlalu kelelahan Dini. Ibu hanya ingin menyarankan agar kau juga berkonsentrasi pada festival sakuramu.” Saran dari ibunya.

“Iya bu! Aku berangkat dulu takut terlambat.”

“Hati-Hati Dini!” seru ibunya pada Dini.

“Iya bu!” sahut dini seraya meninggalkan toko, rumah, dan ibunya.

Dengan berlari kecil Dini meninggalkan rumahnya untuk mengantarkan pesanan dari pelanggan ibunya. Ia telah melewati beberapa rumah dan menyalib beberapa orang disekitarnya. Rumahnya telah hilang dari pandangan saat ia berbelok dengan cepat di jalanan. Dalam perjalanannya itu ia terus memikirkan saran dari ibunya. Mungkin ia memang harus sedikit beristirahat untuk festival nanti, tapi dalam hatinya pun ia berpikir kalau ia masih harus bekerja karena dengan kondisi tubuh seperti sekarang tidak mungkin ibunya mampu bekerja dengan optimal. Dalam perjalanan itu ia telah memutuskan bahwa ia tetap akan mempersiapkan festival tersebut, tapi kesehatan dan toko ibunya akan tetap menjadi prioritas utama baginya.

***

--Bersambung--

7 Mei 2009

Ini adalah cerpen pertamaku....
mungkin ada beberapa kesalahan...
jadi mohon komentarnya ya!!!
selamat membaca